Happy B’day Dinda
Dinda menangis sesunggukan dengan meremas-remas bajunya. Dia duduk meringkuk, kakinya di tekuk. Badannya di sandarkan pada pintu kamar. Sesekali punggung tangannya mengalap air matanya yang jatuh di pipi. Sekali waktu pula dia mengusap ingusnya.
Dua bulan lalu teman sebangku Dinda, Ajeng, memamerkan kotak pencil. Warnanya merah muda dengan coretan biru di tengahnya. Bagus sekali. Pasti harganya juga tidak murah. Kotak pensil itu ada pegangan tangannya. Persis seperti tas ibu-ibu. Kalau dibuka, kotak pencil itu punya dua tingkat.
"Yang atas sendiri aku buat untuk pencil dan bolpoint. Kan itu yang sering aku pakai. Terus tingkat ke dua aku pakai buat menyimpan pencil mewarnai." Ajeng dengan bangga memamerkan pada Dinda. Sambil terus mengagumi tempat pencil yang pasti harganya mahal itu, Dinda mulai memegang deretan pencil gambar yang yang ada gambar binatang dan putri-putri.
"Ini baru juga ya Jeng?" tanya Dinda sambil menunjun pencil-pencil warna itu.
"Iyalah, kalau kotak pencil ini dari Ibuku, kalau pencil warna ini hadiah dari kakakku."
wah betapa senangnya menjadi Ajeng, setiap ulang tahun selalu saja ada barang-barangnya yang baru. Betapa orang tua dan keluarganya sangat perhatian padanya.
Di lain waktu Dimas berangkat sekolah dengan sepeda BMX barunya. Dinda sudah menyangka kalau itu pasti hadiah ulang tahun juga, kan kemarin Dimas baru merayakan ulang tahun ke 11.
Setiap hari ada saja kawan-kawan kelasnya yang berseliweran dengan barang-barang baru. Dan kebanyakan dari mereka mendapatkan dari kado ulang tahun.
Pelan-pelan Dinda membangun harapan untuk mendapatkan hadiah waktu ulang tahun. Dinda ingat saat umurnya menginjak enam tahun, Dinda mulai mengerti arti ulang tahun. Bagi Dinda Ulang tahun itu adalah umur kita bertambah satu.
"Itu hari yang sangat penting bagi kita," kata Mas Aga saat Dinda tanya tentang Ulang tahun.
"Jadi mas, kita harus tetap mengingat tanggal lahir kita?"
"Iya nduk, biar kamu tahu bertambahnya umurmu."
"Kalau Mas Aga, ingat enggak tanggal lahirnya mas Aga?"
"hehhee, kamu itu lucu Din, yo mesti ingatlah, tanggal lahirmu, tanggal lahir Bapak dan Emak, Mas Aga ingat semua."
"Oh begitu ya." Gumam Dinda. Sejak saat itu Dinda berusaha mengingat tanggal lahir orang-orang di rumahnya.
Hal yang paling Dinda senangi bila salah satu dari orang di rumahnya ulang tahun, pasti Mas Aga akan mengajak dia untuk menyiapkan kado. Mas Aga yang umurnya 10 tahun di atasnya selalu memiliki cara unik untuk mengado. Pernah suatu hari Mas Aga mengajak Dinda ke sawah, mencari belut. Wah seru sekali, tapi sayang belut sulit sekali di pegang, beberapa kali Dinda memegang belut tapi selalu lepas. Licin. Hingga sore, hanya 5 ekor belut yang bisa di tangkap. Mas Aga memukul kepala belut satu persatu, "Biar mati nduk belutnya, dan gampang di bawa pulang." Saat itu Mak dan Bapak belum pulang dari warung. Biasanya mereka baru pulang dari warung kopi kami jam sembilan malam. Mas Aga lalu menggoreng belut itu. Aku membantu menata meja untuk makan. Ketika Mak dan Bapak pulang aku dan Mas Aga langsung memeluk Bapak dan bilang "Selamat Ulang tahun Pak." Bapak terharu sekali, apalagi ketika kami suguhkan belut kesukaannya. Hanya 5 ekor belut hasil tangkapan di sawah, tapi sudah bisa membuat Bapak senang.
Waktu Dinda ulang tahun pun, Mas Aga akan memberikan sesuatu buat Dinda. Pernah Dinda di gambarkan bunga dengan di warna-warna Indah. "aku meminta cat air ke Yogi, teman sekelasku, untuk gambar bunga ini. kamu suka tidak nduk?." Tentu saja Dinda suka sekali.
Mas Aga telah mengajari pada Dinda betapa mengingat hari ulang tahun orang-orang yang dikasihi itu penting. Bukan hadianya yang dinilai tapi perhatian yang kita berikan.
Sayang sekali sejak dua tahun lalu tidak ada yang perduli dengan ulang tahun Dinda, sejak Mas Aga pergi selamanya karena ditabrak truk tepat di hari Ulang tahun Dinda yang ke sepuluh. Saat itu Mas Aga ikut membantu bekerja mencari pasir agar bisa mendapat uang untuk membelikan buku gambar yang sangat Dinda inginkan. Sayang ketika mengangkut pasir, sebuah truk yang dikemudikan orang mabuk menabraknya. Mas Aga meninggal dua hari setelah kecelakaan itu.
Hari ini adalah hari ulang tahun Dinda yang ke 12 atau tepat dua tahun dari meninggalnya Mas Aga. Tidak ada apa-apa di rumah. Tidak ada yang pagi-pagi mengguyurnya dengan air satu timba sebagai ucapan selamat ulang tahun. Tidak ada yang memberinya lukisan bunga ataupun bunga kertas. Ibu dan bapak bahkan tak pernah ingat sudah umur berapa Dinda sekarang.
Dinda menatap lukisan bunga yang dia tempel di tembok kamarnya. "Mas Aga, masih ingatkah tanggal berapa sekarang?"
"Iya mas, sekarang pertengahan bulan di ahir tahun. Dinda tidak minta kado apa-apa mas, Dinda hanya pengen mendengar Mas Aga mengucapkan selamat ulang tahun ke Dinda. Dinda hanya ingin diingat hari yang sangat penting bagi Dinda, seperti Mas Aga selalu mengajari Dinda untuk mengingatnya."
"Selamat Ulang Tahun Dinda." Ucap Dinda sambil meraih kembang kertas yang dia letakkan dalam botol di meja kamarnya.