Basah Dan Berdarah
aku duduk di bawah pohon, meringkukkan kakiku menghindari air hujan gerimis yang jatuh dari ujung dedauan. "ah hujan telah membasahi badanmu sayang" ucapmu sambil mengusap air yang jatuh dikeningku. "Tapi hatiku telah basah sejak tadi sayang, disirami oleh cintamu" jawabku tersenyum.
Kunikmati hangatnya tubuhmu yang mendekapku, dan tanganmu yang selalu sibuk mengusir titik-titik air yang membasahi wajah dan rambutku. Sesekali ku lihat matamu yang teduh memandangku.
Satu bunga merah jatuh dari ranting, melenggang turun, sebelum akhirnya berhenti di dekat sepatumu. Sambil tangan kirimu terus mendekapku, kau ambil bunga itu, "sayang, maukah kau terus menjadi bungaku?" ujarmu sambil menyelipkan bunga itu di antara jari-jari tangan kananku.
"Bukankah aku sudah menjadi bunga di hatimu" jawabku manja.
"Walau apapun yang terjadi?"
"Tentu sayangku, karena hatiku telah memilihmu untuk memiliki bungaku."
Ku tatap wajahmu, dan kulihat senyummu yang selalu aku rindukan.
"Apakah kamu juga akan terus menjaga bungamu untukku biarpun aku tidak selalu berada di sisimu?"
Aku geser tubuhku semakin merapat dalam pelukanmu, karena dingin mulai menelusup tulang-tulangku.
"Kamu selalu ada dalam hatiku, jadi kamu tidak pernah meninggalkaku," jawabku setengah berbisik di telinganya.
"ehmmm....Walaupun ketidak hadiranku dalam hari-harimu karena aku sedang bersama belahan hatiku yang lain?"
Pelan suaramu, tapi bagai genderang di telingaku.
beringsut aku dari pelukmu, melepaskan dari dekapanmu. Ku peluk lututku. Mulutku terkatup rapat. Otakku mencoba mencerna perkataanmu.
"sayang..."
Aku tetep diam tak bergeming dari panggilanmu
Menit terus berjalan, hujan tak kunjung berhenti menghujam bumi. Pohon rindang ini sudah tak lagi mampu melindungiku dari air yang tertumpahkan dari langit.
"Iya...aku tahu, kamu selalu mengajariku untuk tidak pernah membangun harapan" ucapku pelan..
Badanku telah basah dan hatiku telah berdarah.
Hawaii February 19, 2009