Aku tarik koperku dengan loyo. Tidak seperti pulang dua tahun lalu, aku membawa tiga koper besar yang berisi oleh-oleh untuk keluargaku, kali ini aku hanya membawa satu koper ukuran sedang dan tas jinjing kecil. Aku memang tidak berniat pulang lama, mungkin hanya sekitar sepuluh hari. Sebenarnya majikanku di Malaysia melarangku cuti. Aku sendiri sejak lama sudah merancang untuk menambah kontrak kerjaku dua tahun lagi dan baru pulang setelah itu.
“Mana uang cutinya?.” Tanya petugas imigrasi setelah membolak-balik passportku dan tidak menemukan uang di dalamnya.
Aku pikir dalam masa dua tahun ini pelayanan imigrasi sudah berubah, ternyata tradisi memalak masih berjalan. Apakah memang tidak ada pejabat yang tahu? Ataukah banyak pejabat yang diuntungkan dengan praktek illegal ini?.
“Hai mana uangnya? Kok malah bengong?”
Petugas imigrasi di depanku ini mulai membentak. Walaupun sebenarnya aku benci melakukannya, tak urung aku keluarkan juga uang lima puluh ribu rupiah yang baru aku tukar di bandara Kuala Lumpur tadi pagi.
“Kok cuman segini sih? Kan biasanya seratus ribu?.
Andaikan saat ini aku punya energi untuk berdebat, tentu akan aku maki-maki petugas koruptor itu, sayang tenagaku sudah tersedot habis oleh pikiranku sebulan ini. Aku keluarkan juga tambahan uang lima puluh ribu, lalu berlalu setelah menarik passportku yang sudah di cap.
Setelah menyelesaikan semua tarikan gelap di imigrasi dan melepaskan diri dari aksi tarik menarik tas di terminal 3 bandara Soekarno Hatta, akhirnya aku bisa duduk di bis patas jurusan Jakarta-Magelang.
Selama perjalanan pikiranku tidak lepas dari bayangan Sofi, anak semata wayangku yang sekarang menginjak umur 13 tahun. Dulu aku meninggalkannya saat baru berumur 9 tahun. Berat sekali harus berpisah, tapi bila tidak karena tuntutan ekonomi dan desakan terus menerus dari suamiku tak mungkin aku pergi merantau ke Malaysia.
“Ayolah Tia, pergilah, ini demi masa depan kita semua. Kamu ingin anak kita bisa terus sekolahkan?.” Kang Tohir terus membujukku.
“Kenapa tidak kamu saja yang pergi kang?.” Terus terang menjadi penjaga toko dengan penghasilan yang benar-benar menjerat leher lebih baik bagiku dari pada harus meninggalkan Sofi.
“ Tia, sekarang ini yang banyak dibutuhkan itu pembantu rumah tangga. Kesempatan Bagi perempuan lebih terbuka dari pada laki-laki. Lagian kalau aku yang pergi, siapa yang akan mengurus ayam-ayam dan kambing kita? Pergilah demi kita semuanya”
Malam terahir sebelum keberangkatanku ke tempat penampungan, aku menemukan secarik kertas dalam tumpukan bajuku. “Tia, aku menunggumu di rumah.” Ah… Kang Tohir selalu saja bisa meruntuhkan hatiku dengan kertas-kertas itu.
Dulu, aku bersikeras untuk tidak menerima uluran cinta kang Tohir. Tapi aku tidak bisa berkutik ketika setiap pagi, aku temukan secarik kertas yang isinya hanya satu baris kalimat yang dia selipkan di jendela kamarku. Rumah Kang Tohir yang hanya berjarak sekitar 10 rumah dari rumahku, memungkinkan dia untuk melakukan itu.
Mungkin orang akan berpikir aku termakan rayuannya. Menurutku itu bukan rayuan tapi ungkapan kejujuran hati. Terlebih ketika suatu malam dia datang ke rumahku dan memberikan dua bungkus bakso, dan ketika aku buka tas kresek hitam pembungkus bakso, aku temukan secarik kertas yang bertulis, “Menikahlah denganku Tia.” Saat itu aku merasa tubuhku diselimuti pelangi. Hatiku berbunga-bunga penuh warna. Dan akhirnya dua bulan kemudian aku menikah dengan Kang Tohir.
“Mbak karcis?.” Aku tergagap
“Magelang pak.” Sambil aku sodorkan uang.
Waktu sudah berganti malam. Hampir semua penumpang bis sudah tidur. Mataku masih terus terjaga. Di luar hujan turun berlahan. Menjadikan kaca bis beruap, berulang kali aku menggosok kaca dengan tanganku, agar bisa melihat keluar. Perjalanan malam memang nyaman, tidak panas, tapi aku tidak bisa leluasa melihat pemandangan di sepanjang jalan. Baliho-baliho ucapan selamat atas terpilihnya presiden yang baru terpampang di beberapa sudut jalan.
Aku sama sekali tidak tertarik memperhatikannya. Waktu pemilihan legislative dan presiden kemarin aku memilih untuk tidak ikut mencontreng. Aku sudah terlalu pesimis dengan pemerintah Indonesia. Siapapun presidennya nasibku dan kawan-kawan yang merantau di negeri orang tidak pernah berubah. Ratusan bahkan ribuan TKI dan TKW diperlakukan kasar oleh majikan, bahkan banyak dari mereka yang tidak dibayar gajinya, tapi pemerintah Indonesia tidak melakukan apa-apa.
Bis berhenti berlahan seiring dengan lampu merah. Hujan semakin deras. Di pinggir trotoar gadis kecil meringkukkan tubuhnya dalam payung mungil, menghindari air hujan yang menderu menghujam bumi.
Melihat gadis itu ingatanku kembali pada Sofi. Suara Sofi seperti terus mengiang di telingaku.
Saat itu aku sedang membersihkan dapur di rumah majikan di Kuala Lumpur. Tiba-tiba HP yang aku letakkan di kamar berbunyi nyaring.Aku tidak segera mengangkatnya, paling juga si Rokimah, tetangga desaku yang juga bekerja di Kuala Lumpur. Tapi ternyata bunyi panggilan tidak berhenti hingga tiga kali.
Aku lihat kode +62. Dadaku langsung bergetar hebat. Siapa lagi yang menelpon dari Indonesia kalau bukan keluargaku. Tidak biasanya juga mereka menelfon, biasanya aku yang selalu menghubungi mereka dua minggu sekali dengan meminjam nomor telfonnya pak RT. Pikiranku langsung tertuju pada Bapak, sudah tiga bulan ini Bapak sakit-sakitan. Aku sangat takut bila terjadi apa-apa dengan beliau.
“Assalamu’alaikum”
“Mak………….” Suara Sofi memanggilku dengan menjerit dan menangis.
Tanganku gemetar. Aku mencium hal tidak beres. Segera aku tutup pintu kamar, agar majikanku yang sedang duduk minum teh di ruang keluarga tidak mendengar.
“Ono opo Nok?”
“Mak, Bapak… Bapak…. Pergi” Tangis Sofi semakin kencang. Aku tegang.
“Pergi kemana tho Nok?” aku bertanya bingung.
Sofi bukannya segera menjawab pertanyaanku, tangisnya semakin kencang memenuhi seluruh telinga kananku. Dan membuat detak jantungku semakin memburu.
“Tenang dulu Sof, tarik nafas, baru cerita ke Mak”
Dari ujung telfon terdengar Sofi mulai berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas dalam.
“Bapak pergi dengan Mbak Susi.”
Suara Sofi yang berbalut isakan bagaikan petir yang menyambar telingaku lalu masuk ke kepalaku dan kemudian memporak-porandakan seluruh persendianku. Susi adalah perempuan dari kampung sebelah.
Tapi aku tidak mau terburu-buru berpikiran buruk. Aku tarik nafas dalam hingga memenuhi rongga paru-paruku. Mencoba untuk tetap tenang.
“Bapak…Bapak sudah seminggu tidak pulang ke rumah Mak. Kata orang-orang Bapak pergi dengan Mbak Susi.” Sofi diam, terdengar dia sedang mengeluarkan ingusnya yang keluar karena menangis. Seluruh persendianku sepertinya sudah runtuh, tak lagi mampu menopang tubuhku.
“Pulanglah Mak, aku tidak mau kehilangan Emak. kasihan Mbah Putri dan Mbah Kakung juga, mereka sekarang sakit-sakitan karena terlalu banyak berpikir.”
Air mataku sudah tidak lagi bisa tertahan. Tanganku bergetar memegang HP.
“Mak, aku ini di wartel, aku hanya membawa uang sepuluh ribu. Ini sudah hampir sembilan ribu lima ratus. Sudah ya Mak, Pokoknya Emak harus pulang walaupun sebentar.”
Tutttttttttttttttt
“Magelang…Magelang… Terahir.” Suara kernet bis mengagetkanku. Ternyata kelelahan telah membuatku terlelap.
“Mak……..” Baru saja aku turunkan kaki kiriku dari Bis, suara yang sangat aku kenal dan rindukan telah mengagetkanku.
Duh anakku, dia sudah besar sekali. Tinggi Sofi sudah hampir menyamaiku. Badannya sudah mulai bongsor. Kami berpelukan erat dalam tangis.
“Mak, Pakde Karim sudah menunggu di luar dengan mobilnya.” Aku mengangguk sambil berusaha tersenyum. Sofi membantuku menarik koper menuju parkiran.
***
Aku buka perlahan gorden dengan terlebih dulu mengucap Bismillah dalam hati. Aku butuh waktu dua hari untuk bisa menguatkan hati membuka kamar ini. Ruangan ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari kenanganku dengan Kang Tohir.
Kami menghabiskan malam pertama empat belas tahun lalu di sini. Ribuan malam kami lewati bersama di kamar ini. Cumbu, pertengkaran, kebahagiaan dan juga sedih selalu kami selesaikan dalam kamar yang hanya berisi satu tempat tidur tua dan lemari baju.
Cat kamar ini telah berubah, tidak sekusam dua tahun lalu. Sofi cerita, bila satu tahun lalu Kang Tohir mengecat ulang rumah setelah menerima kiriman uang dariku. Tempat tidur, dan almari baju masih dalam posisi yang sama.
Aku duduk dipinggir tempat tidur. Mataku menjelajah setiap inci tempat penuh kenangan ini. Aku usap seprai yang kelihatan baru di cuci. Aku ingat betul, seprai ini yang aku pakai di malam terahirku bercinta dengan Kang Tohir dua tahun lalu, sebelum esok harinya aku kembali ke Malaysia. Ternyata malam itu adalah benar-benar terahir kalinya aku bisa mencium keringatnya yang berbalut dengan cinta.
Aku rebahkan badanku di tempat tidur. Aku pejamkan mata. Kembali teringat semua cerita tentang hubungan Kang Tohir dan Susi dari Emak, tetangga dan juga saudara-saudaraku.
Kalau boleh jujur, saat pulang kemarin aku masih sedikit menyimpan harapan bila cerita tentang hubungan gelap Kang Tohir dan Susi hanya gossip semata, ternyata semua orang membenarkannya. Kang Tohir mulai terlihat dekat dengan Susi sekitar sepuluh bulan lalu, saat Susi baru pulang dari Taiwan. Tadi sore aku hampir pingsan ketika Mbak Onah, tetangga samping rumahku, menuturkan kalau pernah memergoki Susi keluar dari kamarku ini. Waktu itu Sofi sedang tidak di rumah.
“Setega itukah kamu Kang menodai kamar suci ini dengan bau tubuh orang lain?”.
Aku beranjak menuju almari pakaian. Tidak lagi aku temukan baju-baju Kang Tohir. Yang ada hanya ada dua seprai, selimut dan beberapa baju lamaku. Aku putar kunci di loker almari. Dulu aku selalu menyimpan apapun yang menurutku berharga dalam loker ini, termasuk kertas-kertas yang selalu ditulis Kang Tohir padaku. Walaupun kami sudah menikah, kebiasaan Kang Tohir untuk menulis di secarik kertas tidak pernah berhenti dan aku tidak pernah bosan menerimanya. Bahkan tulisan-tulisan sederhana itu semakin membuatku mencintainya.
Aku tarik loker. Ada jam tangan Kang Tohir yang aku kirim dari Malaysia lima bulan lalu sebagai hadiah ulang tahunnya. Aku menghabiskan separuh lebih gaji sebulanku untuk membelikan Jam tangan ini. Ternyata dia masih punya nurani dengan meninggalkan barang mahal berwarna kuning emas ini.
Mataku tiba-tiba terpaku pada amplop putih. Aku buka cepat kertas yang ada dalam amplop. Ada secarik tulisan dari goresan tangan yang sudah sangat aku hafal.
“Maafkan Aku Tia. Aku Pergi”
Tubuhku limbung. Terduduk di Tempat tidur. Mataku panas.
“Mudah sekali kau mengawali dan mengakhiri semuanya hanya dengan secarik kertas Kang?” jeritku tertahan.
Banyuwangi 19 Juni 2009