Namaku Zinnira. Masku yang pertama memanggilku Ira. Abah dan Ibu lebih suka dengan nama depanku, Zinni. Kawan-kawanku dan juga masyarakat di sekitar rumahku tidak pernah memanggil dengan namaku, tapi dengan sebutan “Neng.” Sebenarnya aku paling suka dengan panggilan dari Mbakku Naila.
“Zeeeeeeee, cepetan ambilkan kitabku, aku sudah terlambat nih”
Tuh suara kenceng Mbak Naila dari bawah. Kebiasaan buruk yang tidak pernah berubah. Mandi lama, terus terlambat sekolah.
“Makanya kalau mandi itu jangan kungkum.” Aku lemparkan kitab ke bawah. Mbak Naila berlari ke kelas sambil masih sibuk memasang bros untuk menjepit jilbabnya.
Umur Mbak Naila cuman tiga tahun di atasku. Sekarang dia di kelas 6 Madrasah Muallimat (MM). Kurang dua bulan lagi dia akan mengikuti ujian akhir untuk MM, lalu dua minggu berikutnya dia akan disibukkan dengan ujian akhir untuk tingkat SLTA. Memang sekolah yang didirikan oleh Mbah Kakungku lebih dari setengah abad lalu memiliki system yang beda. Yang dominant disekolah ini adalah pendidikan agama, sedangkan pendidikan umum seperti Bahasa Enggris, Matematika, Biologi porsinya cuman tiga puluh persen. Jadi kita punya ujian dua kali.
“Zinni, jangan lupa nduk, obatnya diminum.” Suara ibu dari ruang makan yang letaknya pas didepan kamarku dan Mbak Naila.
Sudah tiga hari ini badanku panas. Kata Dokter sih aku kenak gejala typus. Uhhhh benar-benar tidak enak sakit, tidak bisa kemana-mana. Hanya di kamar saja, sambil membaca-baca buku pelajaran. Sama dengan Mbak Naila, bulan ini aku harus mengikuti ujian untuk tingkat SLTP.
Sebenarnya aku sudah malas sekali untuk belajar persiapan EBTA. Kalau tidak karena perasaan malu bila nantinya tidak lulus, tentu aku sudah tidak lagi perduli dengan tetek bengek ujian. Walaupun lulus dengan nilai yang sempurna, tetep saja aku harus menghabiskan waktuku 3 tahun ke depan di MM. Memang dalam tradisi keluargaku selepas lulus dari MI, semuanya harus sekolah di MM, baru kemudian boleh keluar rumah.
Sebenarnya dua bulan lalu dengan dibonceng Mas Ilham aku sempat datang di SMA 1 di kotaku. SMA favorite, yang murid-muridnya sudah berulang kali menyabet penghargaan mulai tingkat propinsi hingga nasional. Jurusan IPA, menjadi unggulan di tempat ini. Aku membeli formulir pendaftaran. Tentu semuanya aku lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Beruntung Mas keduaku ini yang sedang pulang liburan dari kuliahnya di UIN Jogjakarta sangat klop denganku, jadi bisa diajak untuk main kucing-kucingan. Hehehe.
Tapi sehari setelah itu…
“Zin, kamu itu putrine Abah, jadi harus sekolah di MM. Itu peninggalan Mbah Kakungmu.”
Saat aku sedang sekolah ternyata Abah menemukan formulir tersebut di meja makan.
“Bah, tapi kulo pengen jadi dokter.” Sambil menunduk dalam aku mencoba membela.
“Mau jadi apa saja terserah yang penting kamu tetap sekolah di MM, karena itulah bekal kamu nantinya untuk meneruskan pesantren ini.” Abah pergi meninggalkan kamarku.
Abahku orang yang lembut tapi tegas. Bila beliau marah, tidah pernah berteriak atau bersuara keras. Tapi Abah sangat keras memegang pendapatnya, tidak pernah ada negosiasi. Bila Abah bilang A, tidak mungkin bisa pendapat C.
Ibu memelukku yang mulai tersedu.
“Wes tho nduk, turuti saja apa kata Abahmu”
“Ibu, gimana saya bisa jadi dokter, kalau sekolah di MMA? Pelajaran biologi dan matematika saja diajarkannya seminggu cuman sekali” ujarku sambil masih mendekap ibu.
Aku lihat formulir itu di antara kitab Fathul Wahab dan Fathul Mu’in. Hemm, aku biarkan formulir itu tetap di situ. Bukannya aku tidak pernah mau membuang impianku? karena aku yakin hari tidak selamanya malam.
Hawaii May 26. 2009
Membaca cerpen ini saya jadi teringat Novel Orhan Pamuk, namaku Zanira, mirip Namaku Merah…….