Diam 2

“Aku tidak berubah cintaku” katamu sambil mendekapku dari belakang dan mencium lembut leherku. Aku diam, tak beranjak dan tak menimpali “Ayolah, maafkan aku” Tanganku meremas majalah National Geography yang dari tadi hanya aku bolak-balik saja tanpa bisa konsentrasi aku baca. Kau putar tubuhku. Kau remas lembut pundakku. Wajah kita berhadapan. Aku tatap tajam mataku Kau tersenyum, mencoba memberi kehangatan padaku. Sayup kudengar suara percikan air dari akuarium kesayanganku. Pasti ikan-ikan hiasku sudah mulai kelaparan, sekarangkan sudah jamnya aku memberi makan mereka. “Percaya sayang, aku tidak berubah, mungkin hanya beberapa hari ini aku kurang perhatian ke kamu” Kurasakan badanku yang menghangat dalam dekapannya. Tanganku masih saja menggenggam erat majalah. Masih enggan rasanya untuk membalas pelukannya, walaupun sebenernya aku kangen sekali, apalagi bau parfumnya yang selalu membawaku betah berlama-lama dalam pelukannya. Tapi saat ini semuanya tidak juga mendorongku untuk mendekapnya. “Apakah permintaan maafmu adalah akhir dari semua perubahan ini?” tanyaku pelan Pelan kau lepaskan dekapanmu, dan membimbingku untuk duduk di sofa merah yang baru kita beli dua bulan lalu. Tanganmu masih tak lepas dari pundakku. “Apa maksudmu Fin?” Matamu menghujam jauh ke kornea mataku dan membawa desiran lembut masuk ke relung hatiku. Hemmmmm…..ku hela nafas panjang “Apakah dengan permintak maafan ini Mas Roni menganggap semuanya sudah selesai?” “Lalu apa lagi yang harus aku lakukan Fin?” Kali ini aku lihat rona wajahmu berubah tegang. Tanganmu berpindah meremas lututmu, dan pandanganmu kosong ke depan. Kau hempaskan tubuhmu tak bertenaga di sandaran sofa. Aku geser posisiku. Lurus menghadap TV di depan sofa. “Enggak mas, aku hanya ingin meyakinkan saja, apakah kata maaf mu tadi berarti tidak akan ada penjelasan apapun tentang kejadian beberapa hari ini?. Bila iya, aku juga akan berusaha melupakan apa yang telah terjadi dua minggu ini.” Diam Hening Tik..tik… bunyi jam dinding tua di pojok ruangan yang menemani kebisuan. “Sebenarnya hari Selasa kemarin aku sedang ingin sharing kerjaanku dengan kamu Fin, tapi aku lihat kamu sedang tidak dalam kondisi yang enak untuk diajak bicara. Kamu marah-marah terus. Aku sendiri juga sedang tidak nyaman hati.” Aku masih menunggu.. Kamu menarik nafas dalam “Aku tidak mau bila aku tetap di rumah, kita malah jadi bertengkar, makanya aku pergi lebih cepat.” Aku merasakan keteganganku mulai sedikit longgar. Kamu raih majalah di tanganku yang sudah seperti Koran kusut dan meletakkannya di meja. “Ayolah sayangku, jangan cemburut terus, tambah cakep lho entar kalau cemberut gitu” Godanya sambil mengedipkan matanya dan tangan kanannya sibuk mengacak-acak rambutku. Lambat, akhirnya aku bisa tersenyum juga. Kami pun tertawa bersama sambil berpelukan. Walaupun masih ada sedikit ganjalan, tapi akhirnya satu masalah selesai. “Masih banyak yang tetep kita harus kita bicarakan mas, terutama soal kekusutanmu beberapa hari in. Bukankah kamu belum juga bercerita? Bukannya kemarin kamu belum mau sharing?” ucapku dalam hati. Aku kecup pelan keningmu Hawaii, May 15, 2009

One Response to “Diam 2”

  1. be4rt says:

    hm…… seolah waktu berhenti d sini, sekedar menyatakan senyum dari smua kekeluan yg ada.
    kasian aq blom baca sesi sebelumnya but d sini akan lebih hangat klo d temeni cahaya lilin dan minuman hangat yg d sediakan sang pasangan.
    sip….

Leave a Reply