Diam 1
Aku meraih remot TV di meja, lalu aku pencet tombol 6 yang merupakan channel favoriteku yakni Discovery channel. Aku naikkan dua kakiku di kursi, dan tanganku memegang erat segelas kopi hitam panas.
“Hujan dari semalam kok gak berhenti-henti,” gumamku pelan. Di luar jalanan sepi, tentu orang-orang lebih memilih untuk berdiam diri di kamar dari pada keluar hujan-hujanan, apalagi sekarang weekend.
“Sayang, mau kopi?” aku menawari Mas Roni.
“Bolehlah” jawabnya singkat sambil matanya tetep tidak berpindah dari kerjaan di komputernya.
Tidak seperti biasanya setiap kali aku membuatkan kopi untuknya, dia selalu menghadiahi ciuman kecil di pipiku, tapi tidak kali ini. Kopi sudah aku sediakan di mejanya, Tapi dia tetap tidak bergeming.
Entahlah sejak dua minggu ini aku merasakan ada yang berbeda dari Mas Roni. Dia tidak sehangat dulu, bahkan cenderung tertutup. Dia terlalu asyik dengan pekerjaannya, bahkan sepertinya dia tidak sadar kalau aku disampingnya.
Tapi bukannya memang dia selalu sibuk dengan pekerjaannya? Iya juga sih, tapi biasanya sesibuk apapun dia, pasti masih sempat mengajakku mengobrol atau sekedar cerita-cerita tentang pekerjaannya. Kali ini dia seperti manusia planet lain, yang jadi DIAM.
“Mau makan apa hari ini mas?” tanyaku membuyarkan keheningan yang sudah beberapa jam ini berjalan.
“Apa aja deh, kan kamu tahu apa yang tidak aku sukai.”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu saja yang hanya bisa aku ajukan untuk membuyarkan kekauan di antara kami beberapa hari ini. Bukannya aku tidak mau untuk berusaha mencari tahu kenapa dia berubah. Aku ingat sekali kejadian tiga hari lalu di suatu sore.
“Mas, kenapa sih kok sekarang jadi kusut begitu?”
“Please sayang, untuk saat ini aku belum bisa sharing.”
Jawaban itu yang selalu dia berikan setiap kali aku mulai mengungkit hal ini. Saat itu aku hanya bisa menghela nafas panjang. Ada perih yang tiba-tiba merayapi hatiku. Pengen berontak sebenarnya akan ketidak percayaannya lagi padaku. Bukankah selama ini aku juga selalu cerita apapun tentang diriku ke dia?, lalu kenapa sekarang tiba-tiba begini? Tapi apa yang bisa aku lakukan, toh dia punya pilihan sendiri atas hidupnya.
Sejak kejadian itu aku semakin berhati-hati untuk bertanya sesuatu ke dia. Bahkan aku tak lagi berani untuk curhat tentang apa yang aku rasakan atau aku alami. Aku benar-benar takut mengusik hatinya.
Perbedaannya juga terlihat ketika dia tak lagi memperdulikan lagi keberadaanku. Siang itu waktu baru menunjukkan pukul 2 siang. Tiba-tiba dia bilang “Aku out dulu.” Aku tak lagi mampu bilang apa-apa hanya melongo saja, ketika dia benar-benar keluar rumah. Tumben sekali dia pergi jam segitu, kan biasanya dia baru keluar jam 4.30 sore. Dia tidak menjelaskan apa-apa, tidak bilang mau pergi ke mana, bahkan tidak memberi alasan kenapa harus out cepat. Coba bila aku yang melakukan itu, pasti dia akan marah. Pernah aku tiba-tiba harus pergi dengan kawanku, dan saat itu dia sedang tidak ada di rumah. Dia marah-marah mendapati aku tidak di rumah tanpa pamit atau meninggalkan pesan apapun sebelum pergi
Ketika dia datang, aku mencoba untuk tidak mengukit atau bertanya lagi kemana dia pergi kemarin. Aku hanya berharap dia menjelaskan semuanya seperti yang biasa dia lakukan selama ini. Tapi hingga saat ini dia tetep bungkam. Jadi mungkin memang tidak ada yang perlu dijelaskan ke aku.
Banyak hal-hal kecil lainnya yang entah disadari atau tidak telah berubah darinya. Pagi, biasanya dia selalu menyapaku dengan mencium dan menanyakan kabarku hari itu. Tapi dia sudah sering lupa menanyakannya sekarang. Dulu, kalau aku sedang marah, dia akan berusaha untuk menghiburku. Sekarang?? Boro-boro menghibur, aku marah saja dia juga tidak lagi perduli.
“Mas, siomaynya mantap ya pedasnya?” tanyaku basi-basi sambil memasukkan tahu ke mulutku.
Dia hanya manggut-manggut pertanda setuju.
“Fin, tahu enggak, tadi ada kawanku yang email ke aku, katanya sekarang aku beda, jadi memang bukan hanya kamu saja yang merasakan aku beda, kawan-kawanku juga sama,” katamu enteng sambil menyeruput es jeruk dan kemudian beranjak menuju komputer lagi.
“Aku tidak perduli apa kata kawanmu mas, aku hanya perduli kamu. Aku hanya ingin tahu kenapa kamu berubah.” Ucapku dalam hati dengan mata yang mulai basah.
Tidak tahukah dia betapa aku sangat kangen dengan dia, kangen berbagi cerita seperti dulu. Kangen menghabiskan waktu dengan ketawa bersama. Kangen perhatiannya lagi. Tidak sadarkah dia bila air mataku selalu meleleh tiap malam setiap kali aku mengingat dia. Mungkin memang benar, aku harus tahu posisiku bagi dia yang tidak lebih dari sekedar kawan ngobrol di saat butuh saja, dan tidak punya hak untuk menengok hatinya.
Aku beranjak membereskan piring-piring dan gelas dari meja makan dan membawanya ke dapur, sambil sebelumnya aku mengusap air mata yang jatuh di pipi.
Hawaii May 14, 2009
he he terkadang kejujuran harus menipu rasa sakit dan tak satupun badai yg tak berakhir,
but sesuatu yg terbaik adalah, pengolahan suasana hati pendengar kisah itu sendiri agar kelembutan itu terjaga